source: dokumen pribadi
Bisnis Pariwisata
Bekasi (12/16) –
Dalam rangka belajar menjadi jurnalistik, para mahasiswa dan mahasiswi di ajak
untuk ke pulau pari yang terdapat di Kepulauan Seribu, para mahasiswa dan
mahasiswi di tuntut untuk mewawancarai para turis, pengunjung dan juga para
warga yang tinggal disana. Untuk mendapatkan bahan yang akan dijadikan feature.
Yuri yang
merupakan seorang dosen jurnalistik dari Universitas Bunda Mulia mengajak para
mahasiswa dan mahasiswi nya untuk mempelajari cara membuat feature yang baik
dan benar, para mahasiswa dan mahasiswi pergi ke pulau pari adalah untuk
mengetahui seberapa banyak income dan seberapa sering para turis dan pengunjung
datang ke pulau pari, bagaimana fasilitas-fasilitas yang disediakan, dan
bagaimana mereka menangani para pengunjung yang datang.
Nurhayat selaku
RW di sana mengatakan kalau dipulau pari ini ada 2 pulau yaitu pulau Pari dan
pulau Lancang, di pulau Lancang ada 3 RW sedangkan di pulau Pari sendiri ada 1
RW yaitu Nurhayat itu sendiri. Ia menambahkan kalau mereka mengembangkan bisnis
pariwisata ini sejak 2010 hingga sekarang.
Mereka awalnya
adalah nelayan budidaya rumput laut dan nelayan ikan, namun karena rusaknya
luat karena ada tangan-tangan jahil maka mereka mulai membuka pariwisata yang
berbasis masyarakat. Yang akhirnya menjadi salah satu perekonomian masyarakat
di pulau Pari dari awalnya yang nelayan menjadi bisnis pariwisata.
Di pulau ini ada
3 pantai, yaitu pantai Pasir Perawan, pantai Pasir Bintang, dan juga pantai Kresek.
Dan yang menjadi pusat perhatian dari para wisatawan adalah pantai Pasir
Perawan. Karena sudah dapat dilihat di internet, sedangkan dua pulau lain nya
baru saja di buka jadi tidak begitu ramai.
Namun pemerintah
belum membantu bisnis wisata ini jadi pariwisata ini masih berbasis swadaya
masyarakat, pemerintah hanya membantu sedikit dan sebagian besar masih dari
masyarakat sekitar saja. Dan pesona pulau pari yang di berikan sudah sepaket
yaitu ada homestay, sepeda, dan bakar-bakar ikan di malam hari, dan bisa juga
bermain banana boat dan snorkling disiang hari. Dan ada juga anak-anak sanggar
namun jarang ditampilkan, hanya pada saat penyambutan saja.
Beberapa
mahasiswa dan mahasiswi berhasil mewawancarai seorang warga yang bertempat
tinggal dipulau Pari selama 15tahun, warga itu bernama Feriati. Feriati selaku
warga desa pulau pari mengatakan kalau semakin tahun semakin banyak yang datang
ke pulau Pari, para pengunjung membeludak pada hari libur atau weekend yaitu
sabtu-minggu dapat mencapai 1000 pengujung, bahkan lebih dapat menyentuh angka
3000pengunjung. Tapi pada hari kerja yaitu senin-jumat total pengunjungnya
mencapai 600 hingga 700 orang.
Pulau ini
disebut pulau Pari karena dulu banyak ikan pari, dan pulau ini berbentuk
seperti Pari, maka dari itu pulau ini dinamakan pulau Pari, pulau Pari sekarang
terkenal dengan biota-biota laut yang lengkap, seperti penangkaran penyu dan
ada juga bintang laut, serta ada juga wisata air seperti banana boat dan
snorkling.
Sebagian penduduk
masih bertahan menjadi seorang nelayan yang mencari ikan, dan para ibu-ibu
disana beralih menjadi katering yang membantu memasak makanan untuk para
wisatawan yang memesan. Dan para pemuda-pemuda menjadi tour guide, namun masih
menjadi kesulitan jika para wisatawan asing datang membeli sesuatu karena penduduk
di Pulau Pari masih terbatas dalam hal bahasa asing, tetapi para turis asing
kadang membawa ahli bahasanya jadi memudahkan para penduduk untuk mengerti apa
yang di maksud wisatawan tersebut.
Untuk menjadi
tour guide di Pulau Pari tidak bisa sembarangan, karena untuk menjadi tour
guide di Pulau Pari HARUS warga pulau pari itu sendiri tidak bisa orang luar,
dan jika orang luar ingin menjadi tour guide harus menjadi warga Pulau Pari itu
sendiri. Keluhan dari para pengunjung mungkin di menu makanan dan pelayanan
yang tidak begitu memuaskan, homestay nya juga karena memang masih terbatas dan
dari masyarakat tetapi untuk lainnya mereka tidak pernah komplain.
Menurut Supinah
yang seorang dosen pariwisata, ia mengatakan umur
orang yang sering melakukan perjalanan pariwisata antara 19-35 tahun di usia
itu banyak melakukan kegiatan pariwisata, orang-orang mengatakan kalau setiap
tempat pariwisata harus mempunyai spot foto yang bagus untuk menarik banyak
wisatawan atau turis asing dari manca negara, namun menurutnya tidak selalu
benar.
Supinah
menambahkan pariwisata yang sedang dikembangkan adalah community based tourism
yang artinya adalah komunitas berbasis masyarakat. Jadi pariwisata ini masih
dari masyarakat,namun jika tidak dibantu oleh pemerintah dan diambil alih
swasta maka objek pariwisata tersebut akan ter-ekspos atau terkormesialkan.
Indonesia
mengatakan kalau ingin mendapatkan wisatawan sebanyak 19 juta orang. Semakin banyak
orang datang maka semakin banyak devisa yang diterima negara, tetapi tidak juga
19 juta orang bisa menjadi efek positif apabila dijalankan dengan benar tetapi
19 juta orang ini bisa menjadi efek negatif apabila tidak dijalankan dengan
benar.
Jika semua
restoran atau semua hotel mempunyai konsep para wisatawan mendapatkan view yang dekat dengan bibir pantai, lalu
ia mengatakan bagaimana para penyu bisa ber reproduksi kalau para wisatawan
ingin mendapatkan tempat yang sangat dekat dengan pantai, dengan melakukan itu
sangat sulit untuk penyu jalan kelaut melangsungkan hidupnya.
Supinah mengatakan
kalau pariwisata itu industri bersifat multiplayer-effect
dengan adanya satu objek wisata dapat menguntungkan semua orang, pendapatan
perseorangannya tinggi dan pendapatan daerahnya juga tinggi, banyak negara yang
tidak mendapat perhatian dari pemerintahnya bukan hanya Indonesia, tetapi di
Thailand juga ada namanya Ayutthaya yang merupakan peninggalan nenek moyang
yang tidak mendapat perhatian pemerintah dalam masalah pariwisata.
Kesimpulan nya adalah, pariwisata di negeri ini sangatlah banyak namun banyak pula
yang tidak dapat perhatian dari pemerintah karena pemerintah sekarang lebih
mengedepankan wisata yang mendapatkan devisa terbanyak, padahal sebenarnya
masih banyak tempat-tempat atau pariwisata yang masih perawan atau masih butuh
perhatian dari para pemerintah dalam hal dana dan perawatan tempat tersebut.

