Live In
Boro
Pada
sekitar 3 tahun yang lalu ,saat
saya tengah duduk di bangku kelas 2 sekolah menengah atas (SMA),sekolah saya Santo
Yoseph mengadakan suatu program Live in.Program tersebut di
selenggarakan di kota Yogyakarta,tepatnya desa Boro.Live in adalah tentang para siswa-siswi
kelas 2 SMA Santo Yoseph tinggal dengan warga desa Boro
selama 3 hari 4 malam.Kegiatan
tersebut diadakan
agar para siswa-siswi SMA Santo Yoseph dapat merasakan suatu pengalaman tinggal
di desa dengan tanpa adanya koneksi internet dan gadget elektronik,dan kita di wajibkan untuk membantu
para ‘orang tua’ kita di desa tersebut dalam pekerjaannya masing-masing.
Dari
mulai bertani hingga beternak,kita semua merasakan
setiap jerih payah para warga desa sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup
mereka.Desa Boro sangatlah kaya akan sumber daya alamnya.Di desa tersebut tidak
pernah mengalami kekeringan,karena
desa tersebut berada di dataran tinggi dekat dengan pegunungan dimana di
pegunungan tersebut terdapat mata air,sehingga air yang tersedia sangatlah segar karena langsung dari
pegunungan.
Memang kami tidak sepenuhnya bekerja
membantu para ‘orang tua’ dalam bekerja,karena mereka sendiri yang melarang kami untuk
bekerja terlalu keras,mereka
ingin kami merasakan indahnya desa
Boro dengan segala kekayaannya yang menggugah mata dan pikiran . Di desa Boro terdapat sebuah air
terjun yang sangat indah namanya air terjun Boro Jeneponto.Air terjun tersebut
memiliki ketinggian 20 sampai 30 meter dengan arus yang sangat kuat.
Air terjun tersebut berjarak 10-20
kilometer dari pemukiman dimana
kami tinggal.Lalu
tempat lainnya yang sangat indah adalah Gua Maria Watu Blencong ,Gua Maria Watu Blencong
sering dikunjungi oleh para wisatawan tidak hanya lokal namun para wisatawan
mancanegara yang tahu akan berziarah ke Gua Maria Watu Blencong.Disana terdapat taman
yang sangat indah dan terkenal akan air keran yang dapat diminum yang dianggap
para masyarakat dapat menyembuhkan penyakit.
Lalu pada hari terakhir sebelum kami
pulang,para ‘orang
tua’ kami memberikan buah tangan khas desa Boro agar dapat mengingat mereka
sesampainya kami di rumah masing-masing.Pengalaman tersebut tidak akan terlupakan karena
hanya terjadi satu kali seumur hidup.
Pembetulan :
Pink : di pisah
Hijau : harus awalan huruf besar
Biru : di sambung
Kuning
: harus ada spasi
-Pada sekitar 3 tahun yang lalu,
saat saya tengah duduk di bangku kelas 2 sekolah menengah atas (SMA), sekolah
saya Santo Yoseph mengadakan suatu program Live
in. Program tersebut di selenggarakan di kota Yogyakarta, tepatnya Desa
Boro. Live in adalah tentang para
siswa-siswi kelas 2 SMA Santo Yoseph tinggal dengan warga Desa Boro selama 3
hari 4 malam. Kegiatan tersebut di adakan agar para siswa-siswi SMA Santo
Yoseph dapat merasakan suatu pengalaman tinggal di desa dengan tanpa adanya
koneksi internet dan gadget elektronik, dan kita diwajibkan untuk membantu para
‘orang tua’ kita di desa tersebut dalam pekerjaannya masing-masing.
- Dari mulai bertani hingga ber ternak, kita semua merasakan
setiap jerih payah para warga desa sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup
mereka. Desa Boro sangatlah kaya akan sumber daya alamnya. Di desa tersebut
tidak pernah mengalami kekeringan, karena desa tersebut berada di dataran
tinggi dekat dengan pegunungan dimana di pegunungan tersebut terdapat mata air,
sehingga air yang tersedia sangatlah segar karena langsung dari pegunungan.
- mereka sendiri yang melarang kami
untuk bekerja terlalu keras, mereka ingin kami merasakan indahnya Desa Boro
dengan segala kekayaannya yang menggugah mata dan pikiran. Di Desa Boro
terdapat sebuah air terjun yang sangat indah namanya air terjun Boro Jeneponto.
Air terjun tersebut memiliki ketinggian 20 sampai 30 meter dengan arus yang
sangat kuat.
- Air terjun tersebut berjarak 10-20
kilometer dari pemukiman di mana kami tinggal. Lalu tempat lainnya yang sangat
indah adalah Gua Maria Watu Blencong, Gua Maria Watu Blencong sering dikunjungi
oleh para wisatawan tidak hanya lokal namun para wisatawan mancanegara yang
tahu akan berziarah ke Gua Maria Watu Blencong. Disana terdapat taman yang
sangat indah dan terkenal akan air keran yang dapat diminum yang dianggap para
masyarakat dapat menyembuhkan penyakit.
- Lalu pada hari terakhir sebelum
kami pulang, para ‘orang tua’ kami memberikan buah tangan khas Desa Boro agar
dapat mengingat mereka sesampainya kami di rumah masing-masing. Pengalaman
tersebut tidak akan terlupakan karena hanya terjadi satu kali seumur hidup.
No comments:
Post a Comment