Monday, November 28, 2016

Pembetulan Kata


Live In Boro
            Pada sekitar 3 tahun yang lalu ,saat saya tengah duduk di bangku kelas 2 sekolah menengah atas (SMA),sekolah saya Santo Yoseph mengadakan suatu program Live in.Program tersebut di selenggarakan di kota Yogyakarta,tepatnya desa Boro.Live in adalah tentang para siswa-siswi kelas 2 SMA Santo Yoseph tinggal dengan warga desa  Boro selama 3 hari 4 malam.Kegiatan tersebut diadakan agar para siswa-siswi SMA Santo Yoseph dapat merasakan suatu pengalaman tinggal di desa dengan tanpa adanya koneksi internet dan gadget elektronik,dan kita di wajibkan untuk membantu para ‘orang tua’ kita di desa tersebut dalam pekerjaannya masing-masing.
            Dari mulai bertani hingga beternak,kita semua merasakan setiap jerih payah para warga desa sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.Desa  Boro sangatlah kaya akan sumber daya alamnya.Di desa tersebut tidak pernah mengalami kekeringan,karena desa tersebut berada di dataran tinggi dekat dengan pegunungan dimana di pegunungan tersebut terdapat mata air,sehingga air yang tersedia sangatlah segar karena langsung dari pegunungan.
Memang kami tidak sepenuhnya bekerja membantu para ‘orang tua’ dalam bekerja,karena mereka sendiri yang melarang kami untuk bekerja terlalu keras,mereka ingin kami merasakan indahnya desa Boro dengan segala kekayaannya yang menggugah mata dan pikiran . Di desa Boro terdapat sebuah air terjun yang sangat indah namanya air terjun Boro Jeneponto.Air terjun tersebut memiliki ketinggian 20 sampai 30 meter dengan arus yang sangat kuat.
Air terjun tersebut berjarak 10-20 kilometer dari pemukiman dimana kami tinggal.Lalu tempat lainnya yang sangat indah adalah Gua Maria Watu Blencong ,Gua Maria Watu Blencong sering dikunjungi oleh para wisatawan tidak hanya lokal namun para wisatawan mancanegara yang tahu akan berziarah ke Gua Maria Watu Blencong.Disana terdapat taman yang sangat indah dan terkenal akan air keran yang dapat diminum yang dianggap para masyarakat dapat menyembuhkan penyakit.
Lalu pada hari terakhir sebelum kami pulang,para ‘orang tua’ kami memberikan buah tangan khas desa Boro agar dapat mengingat mereka sesampainya kami di rumah masing-masing.Pengalaman tersebut tidak akan terlupakan karena hanya terjadi satu kali seumur hidup.

Pembetulan :
Pink : di pisah
Hijau : harus awalan huruf besar
Biru : di sambung
Kuning : harus ada spasi 

-Pada sekitar 3 tahun yang lalu, saat saya tengah duduk di bangku kelas 2 sekolah menengah atas (SMA), sekolah saya Santo Yoseph mengadakan suatu program Live in. Program tersebut di selenggarakan di kota Yogyakarta, tepatnya Desa Boro. Live in adalah tentang para siswa-siswi kelas 2 SMA Santo Yoseph tinggal dengan warga Desa Boro selama 3 hari 4 malam. Kegiatan tersebut di adakan agar para siswa-siswi SMA Santo Yoseph dapat merasakan suatu pengalaman tinggal di desa dengan tanpa adanya koneksi internet dan gadget elektronik, dan kita diwajibkan untuk membantu para ‘orang tua’ kita di desa tersebut dalam pekerjaannya masing-masing.

- Dari mulai bertani hingga ber ternak, kita semua merasakan setiap jerih payah para warga desa sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Desa Boro sangatlah kaya akan sumber daya alamnya. Di desa tersebut tidak pernah mengalami kekeringan, karena desa tersebut berada di dataran tinggi dekat dengan pegunungan dimana di pegunungan tersebut terdapat mata air, sehingga air yang tersedia sangatlah segar karena langsung dari pegunungan.

- mereka sendiri yang melarang kami untuk bekerja terlalu keras, mereka ingin kami merasakan indahnya Desa Boro dengan segala kekayaannya yang menggugah mata dan pikiran. Di Desa Boro terdapat sebuah air terjun yang sangat indah namanya air terjun Boro Jeneponto. Air terjun tersebut memiliki ketinggian 20 sampai 30 meter dengan arus yang sangat kuat.

- Air terjun tersebut berjarak 10-20 kilometer dari pemukiman di mana kami tinggal. Lalu tempat lainnya yang sangat indah adalah Gua Maria Watu Blencong, Gua Maria Watu Blencong sering dikunjungi oleh para wisatawan tidak hanya lokal namun para wisatawan mancanegara yang tahu akan berziarah ke Gua Maria Watu Blencong. Disana terdapat taman yang sangat indah dan terkenal akan air keran yang dapat diminum yang dianggap para masyarakat dapat menyembuhkan penyakit.

- Lalu pada hari terakhir sebelum kami pulang, para ‘orang tua’ kami memberikan buah tangan khas Desa Boro agar dapat mengingat mereka sesampainya kami di rumah masing-masing. Pengalaman tersebut tidak akan terlupakan karena hanya terjadi satu kali seumur hidup.








                                                                




No comments:

Post a Comment