Wednesday, December 16, 2015

bisnis pariwisata

source: dokumen pribadi
                                                          
                            Bisnis Pariwisata

Bekasi (12/16) – Dalam rangka belajar menjadi jurnalistik, para mahasiswa dan mahasiswi di ajak untuk ke pulau pari yang terdapat di Kepulauan Seribu, para mahasiswa dan mahasiswi di tuntut untuk mewawancarai para turis, pengunjung dan juga para warga yang tinggal disana. Untuk mendapatkan bahan yang akan dijadikan feature.
Yuri yang merupakan seorang dosen jurnalistik dari Universitas Bunda Mulia mengajak para mahasiswa dan mahasiswi nya untuk mempelajari cara membuat feature yang baik dan benar, para mahasiswa dan mahasiswi pergi ke pulau pari adalah untuk mengetahui seberapa banyak income dan seberapa sering para turis dan pengunjung datang ke pulau pari, bagaimana fasilitas-fasilitas yang disediakan, dan bagaimana mereka menangani para pengunjung yang datang.
Nurhayat selaku RW di sana mengatakan kalau dipulau pari ini ada 2 pulau yaitu pulau Pari dan pulau Lancang, di pulau Lancang ada 3 RW sedangkan di pulau Pari sendiri ada 1 RW yaitu Nurhayat itu sendiri. Ia menambahkan kalau mereka mengembangkan bisnis pariwisata ini sejak 2010 hingga sekarang.
Mereka awalnya adalah nelayan budidaya rumput laut dan nelayan ikan, namun karena rusaknya luat karena ada tangan-tangan jahil maka mereka mulai membuka pariwisata yang berbasis masyarakat. Yang akhirnya menjadi salah satu perekonomian masyarakat di pulau Pari dari awalnya yang nelayan menjadi bisnis pariwisata.
Di pulau ini ada 3 pantai, yaitu pantai Pasir Perawan, pantai Pasir Bintang, dan juga pantai Kresek. Dan yang menjadi pusat perhatian dari para wisatawan adalah pantai Pasir Perawan. Karena sudah dapat dilihat di internet, sedangkan dua pulau lain nya baru saja di buka jadi tidak begitu ramai.
Namun pemerintah belum membantu bisnis wisata ini jadi pariwisata ini masih berbasis swadaya masyarakat, pemerintah hanya membantu sedikit dan sebagian besar masih dari masyarakat sekitar saja. Dan pesona pulau pari yang di berikan sudah sepaket yaitu ada homestay, sepeda, dan bakar-bakar ikan di malam hari, dan bisa juga bermain banana boat dan snorkling disiang hari. Dan ada juga anak-anak sanggar namun jarang ditampilkan, hanya pada saat penyambutan saja.
Beberapa mahasiswa dan mahasiswi berhasil mewawancarai seorang warga yang bertempat tinggal dipulau Pari selama 15tahun, warga itu bernama Feriati. Feriati selaku warga desa pulau pari mengatakan kalau semakin tahun semakin banyak yang datang ke pulau Pari, para pengunjung membeludak pada hari libur atau weekend yaitu sabtu-minggu dapat mencapai 1000 pengujung, bahkan lebih dapat menyentuh angka 3000pengunjung. Tapi pada hari kerja yaitu senin-jumat total pengunjungnya mencapai 600 hingga 700 orang.
Pulau ini disebut pulau Pari karena dulu banyak ikan pari, dan pulau ini berbentuk seperti Pari, maka dari itu pulau ini dinamakan pulau Pari, pulau Pari sekarang terkenal dengan biota-biota laut yang lengkap, seperti penangkaran penyu dan ada juga bintang laut, serta ada juga wisata air seperti banana boat dan snorkling.


Sebagian penduduk masih bertahan menjadi seorang nelayan yang mencari ikan, dan para ibu-ibu disana beralih menjadi katering yang membantu memasak makanan untuk para wisatawan yang memesan. Dan para pemuda-pemuda menjadi tour guide, namun masih menjadi kesulitan jika para wisatawan asing datang membeli sesuatu karena penduduk di Pulau Pari masih terbatas dalam hal bahasa asing, tetapi para turis asing kadang membawa ahli bahasanya jadi memudahkan para penduduk untuk mengerti apa yang di maksud wisatawan tersebut.
Untuk menjadi tour guide di Pulau Pari tidak bisa sembarangan, karena untuk menjadi tour guide di Pulau Pari HARUS warga pulau pari itu sendiri tidak bisa orang luar, dan jika orang luar ingin menjadi tour guide harus menjadi warga Pulau Pari itu sendiri. Keluhan dari para pengunjung mungkin di menu makanan dan pelayanan yang tidak begitu memuaskan, homestay nya juga karena memang masih terbatas dan dari masyarakat tetapi untuk lainnya mereka tidak pernah komplain.

Menurut Supinah yang seorang dosen pariwisata, ia mengatakan umur orang yang sering melakukan perjalanan pariwisata antara 19-35 tahun di usia itu banyak melakukan kegiatan pariwisata, orang-orang mengatakan kalau setiap tempat pariwisata harus mempunyai spot foto yang bagus untuk menarik banyak wisatawan atau turis asing dari manca negara, namun menurutnya tidak selalu benar.

Supinah menambahkan pariwisata yang sedang dikembangkan adalah community based tourism yang artinya adalah komunitas berbasis masyarakat. Jadi pariwisata ini masih dari masyarakat,namun jika tidak dibantu oleh pemerintah dan diambil alih swasta maka objek pariwisata tersebut akan ter-ekspos atau terkormesialkan.

Indonesia mengatakan kalau ingin mendapatkan wisatawan sebanyak 19 juta orang. Semakin banyak orang datang maka semakin banyak devisa yang diterima negara, tetapi tidak juga 19 juta orang bisa menjadi efek positif apabila dijalankan dengan benar tetapi 19 juta orang ini bisa menjadi efek negatif apabila tidak dijalankan dengan benar.
Jika semua restoran atau semua hotel mempunyai konsep para wisatawan mendapatkan view yang dekat dengan bibir pantai, lalu ia mengatakan bagaimana para penyu bisa ber reproduksi kalau para wisatawan ingin mendapatkan tempat yang sangat dekat dengan pantai, dengan melakukan itu sangat sulit untuk penyu jalan kelaut melangsungkan hidupnya.


Supinah mengatakan kalau pariwisata itu industri bersifat multiplayer-effect dengan adanya satu objek wisata dapat menguntungkan semua orang, pendapatan perseorangannya tinggi dan pendapatan daerahnya juga tinggi, banyak negara yang tidak mendapat perhatian dari pemerintahnya bukan hanya Indonesia, tetapi di Thailand juga ada namanya Ayutthaya yang merupakan peninggalan nenek moyang yang tidak mendapat perhatian pemerintah dalam masalah pariwisata.


Kesimpulan nya adalah, pariwisata di negeri ini sangatlah banyak namun banyak pula yang tidak dapat perhatian dari pemerintah karena pemerintah sekarang lebih mengedepankan wisata yang mendapatkan devisa terbanyak, padahal sebenarnya masih banyak tempat-tempat atau pariwisata yang masih perawan atau masih butuh perhatian dari para pemerintah dalam hal dana dan perawatan tempat tersebut. 

No comments:

Post a Comment